{"id":948,"date":"2026-04-24T17:54:18","date_gmt":"2026-04-25T00:54:18","guid":{"rendered":"https:\/\/caca.casz.org\/?p=948"},"modified":"2026-04-24T18:01:47","modified_gmt":"2026-04-25T01:01:47","slug":"948","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/blog\/uncategorized\/948\/","title":{"rendered":""},"content":{"rendered":"<p>Berikut adalah kelanjutan analisis yang lebih mendalam, berfokus pada **implikasi teologis, kritik metodologis, perbandingan dengan pendekatan tradisional, serta panduan praktis** dalam memanfaatkan modul *Intertexts* dari Corpus Coranicum.<\/p>\n<p>&#8212;<\/p>\n<p>### 13. Implikasi Teologis: Menavigasi Ketegangan antara &#8220;Wahyu&#8221; dan &#8220;Konteks&#8221;<\/p>\n<p>Salah satu aspek paling sensitif dari halaman *Intertexts* adalah dampaknya terhadap pemahaman teologis tentang al-Qur&#8217;an. Analisis ini menguraikan bagaimana proyek tersebut menangani ketegangan antara klaim wahyu ilahi dan bukti keterkaitan tekstual dengan sumber manusia\/sejarah.<\/p>\n<p>#### A. Konsep *Recontextualization* (Rekontekstualisasi) vs. *Plagiarism* (Plagiarisme)<br \/>\n*   **Pandangan Kritis Sekuler:** Sarjana orientalis tradisional sering menafsirkan paralel teks sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad (atau penulis al-Qur&#8217;an) &#8220;meminjam&#8221; atau &#8220;menyalin&#8221; dari sumber Yahudi-Kristen.<br \/>\n*   **Pendekatan Corpus Coranicum:** Halaman ini menghindari kata &#8220;pinjaman&#8221;. Sebaliknya, ia menggunakan kerangka kerja **resepsi aktif**. Al-Qur&#8217;an dilihat sebagai agen yang secara sadar mengambil materi naratif yang dikenal audiensnya, lalu **memodifikasinya** untuk tujuan teologis baru.<br \/>\n    *   *Contoh:* Jika al-Qur&#8217;an menceritakan kisah Musa dengan detail yang berbeda dari Keluaran (Exodus), itu bukan &#8220;kesalahan memori&#8221;, melainkan **komentar teologis** yang disengaja terhadap versi sebelumnya.<\/p>\n<p>#### B. Tantangan terhadap Doktrin *I&#8217;jaz* (Keunikan Sastra)<br \/>\n*   Doktrin *I&#8217;jaz* menyatakan bahwa al-Qur&#8217;an tidak dapat ditiru karena keunikannya.<br \/>\n*   Modul *Intertexts* menunjukkan bahwa al-Qur&#8217;an menggunakan gaya, metafora, dan struktur yang sangat mirip dengan puisi Arab pra-Islam dan prosa berima (*saj&#8217;*) serta homili Kristen Suriah.<br \/>\n*   **Implikasi:** Ini menggeser fokus dari &#8220;keunikan total&#8221; menjadi &#8220;keunikan dalam transformasi&#8221;. Keajaiban al-Qur&#8217;an, dalam pandangan ini, terletak pada kemampuannya mengolah materi lama menjadi pesan baru yang koheren, bukan pada penciptaan bahasa dari kekosongan.<\/p>\n<p>#### C. Yesus dan Maria dalam Perspektif Baru<br \/>\n*   Halaman ini sering menyoroti betapa eratnya kisah Yesus dan Maria dalam al-Qur&#8217;an dengan tradisi **Kristen Non-Kalsedonian** (seperti Yakobit atau Nestorian) yang dominan di Timur Tengah saat itu, bukan dengan Kristen Barat atau Ortodoks Yunani.<br \/>\n*   Ini menyarankan bahwa al-Qur&#8217;an berdialog spesifik dengan komunitas Kristen lokal di Hijaz\/Yaman, yang memiliki tradisi liturgis dan naratif tersendiri (misalnya, penekanan pada kemanusiaan Yesus atau peran Maria yang sangat dimuliakan).<\/p>\n<p>### 14. Kritik Metodologis dan Keterbatasan Akademis<\/p>\n<p>Meskipun canggih, pendekatan *Intertexts* dalam Corpus Coranicum tidak luput dari kritik akademis. Penting untuk memahami batasan-batasan ini agar analisis tetap seimbang.<\/p>\n<p>#### A. Masalah *Parallelomania* (Obsesi Paralel)<br \/>\n*   **Kritik:** Beberapa sarjana berpendapat bahwa proyek ini terkadang terlalu agresif mencari kemiripan. Tidak setiap kemiripan tema (misalnya, adanya air bah atau taman surga) membuktikan hubungan tekstual langsung. Bisa jadi itu adalah **motif universal** atau arketipe budaya Timur Dekat kuno.<br \/>\n*   **Risiko:** Menghubungkan dua teks hanya karena memiliki elemen serupa dapat mengarah pada kesimpulan palsu tentang ketergantungan historis.<\/p>\n<p>#### B. Bias Sumber Tertulis (Textual Bias)<br \/>\n*   **Kritik:** Proyek ini sangat bergantung pada teks tertulis yang telah survives (bertahan) hingga kini (Alkitab, Talmud, Homili Suriah).<br \/>\n*   **Kenyataan Historis:** Pada abad ke-7, banyak tradisi beredar secara **lisan** (oral tradition). Apa yang tertulis dalam *Midrash* abad ke-9 mungkin mencerminkan tradisi lisan abad ke-6. Namun, sulit membuktikan bahwa al-Qur&#8217;an mengakses versi lisan tersebut daripada versi tertulis.<br \/>\n*   **Keterbatasan:** Halaman ini mungkin melewatkan nuansa tradisi lisan Arab murni yang tidak memiliki padanan tertulis di luar Jazirah Arab.<\/p>\n<p>#### C. Kompleksitas Bahasa dan Terjemahan<br \/>\n*   Meskipun ada terjemahan, makna teologis sering hilang dalam translasi.<br \/>\n*   *Contoh:* Kata Arab *Ruh* (Roh) memiliki resonansi yang berbeda dengan *Pneuma* (Yunani) atau *Ruach* (Ibrani). Membandingkannya secara langsung tanpa analisis semantik mendalam bisa menyesatkan. Corpus Coranicum berusaha mitigasi ini dengan catatan filologis, tetapi pengguna awam mungkin melewatkannya.<\/p>\n<p>### 15. Perbandingan dengan Tafsir Tradisional Islam<\/p>\n<p>Bagaimana pendekatan *Intertexts* ini berbeda dengan metode tafsir klasik (seperti Tafsir Ibnu Katsir atau Al-Tabari)?<\/p>\n<p>| Aspek | Tafsir Tradisional (Klasik) | Corpus Coranicum (Intertexts) |<br \/>\n| :&#8212; | :&#8212; | :&#8212; |<br \/>\n| **Sumber Otoritas** | Hadis, Riwayat Sahabat, Tabi&#8217;in. | Teks-teks kontemporer al-Qur&#8217;an (Alkitab, Apokrifa, Puisi Arab). |<br \/>\n| **Arah Pandang** | *Internal*: Menjelaskan al-Qur&#8217;an dengan al-Qur&#8217;an dan Sunnah. | *Eksternal\/Komparatif*: Menjelaskan al-Qur&#8217;an dengan konteks sejarah luas. |<br \/>\n| **Tujuan** | Hukum (Fiqh), Akidah, Spiritualitas. | Sejarah, Filologi, Sastra, Kontekstualisasi. |<br \/>\n| **Sikap terhadap Teks Lain** | Sering menganggap teks Yahudi-Kristen telah *tahrif* (dirusak\/dipalsukan). | Memandang teks Yahudi-Kristen sebagai saksi sejarah yang valid untuk rekonstruksi konteks. |<br \/>\n| **Metode** | Naratif-Transmisi (*Isnad*). | Kritis-Historis &#038; Komparatif. |<\/p>\n<p>**Poin Kunci:** Corpus Coranicum tidak bertujuan menggantikan tafsir tradisional, tetapi melengkapi dengan lapisan analisis historis yang sering diabaikan oleh exegete klasik karena keterbatasan akses mereka terhadap naskah-naskah kuno non-Arab.<\/p>\n<p>### 16. Panduan Praktis: Cara Menggunakan Halaman Ini untuk Penelitian<\/p>\n<p>Jika Anda ingin memanfaatkan halaman https:\/\/corpuscoranicum.de\/en\/intertexts secara efektif, ikuti langkah-langkah strategis berikut:<\/p>\n<p>#### Langkah 1: Tentukan Fokus Penelitian<br \/>\nJangan menjelajah secara acak. Pilih salah satu:<br \/>\n*   **Tokoh:** Misalnya, &#8220;How is Abraham portrayed?&#8221;<br \/>\n*   **Tema:** Misalnya, &#8220;Eschatology (Kiamat)&#8221; atau &#8220;Law (Hukum Waris)&#8221;.<br \/>\n*   **Surah Spesifik:** Misalnya, Surah Al-Kahfi (yang penuh dengan paralel legenda).<\/p>\n<p>#### Langkah 2: Gunakan Filter &#8220;Source Language&#8221;<br \/>\n*   Jika Anda tertarik pada pengaruh Yahudi, filter untuk sumber **Hebrew** atau **Aramaic (Targum\/Midrash)**.<br \/>\n*   Jika tertarik pada pengaruh Kristen, filter untuk **Greek (New Testament)** atau **Syriac (Homilies\/Hymns)**.<\/p>\n<p>#### Langkah 3: Perhatikan &#8220;Apparatus&#8221; (Catatan Kaki)<br \/>\n*   Jangan hanya membaca teks berdampingan. Klik ikon informasi atau catatan kaki. Di sinilah para ahli Corpus Coranicum menjelaskan *mengapa* mereka menghubungkan dua teks tersebut.<br \/>\n*   Cari kata kunci seperti *&#8221;loanword&#8221;* (kata serapan), *&#8221;calque&#8221;* (terjemahan harfiah idioms), atau *&#8221;narrative parallel&#8221;*.<\/p>\n<p>#### Langkah 4: Verifikasi Silang (Cross-Reference)<br \/>\n*   Bandingkan temuan di Corpus Coranicum dengan literatur sekunder lain seperti karya **Angelika Neuwirth** (pendiri proyek), **Gabriel Said Reynolds**, atau **Sidney Griffith**. Ini membantu memastikan bahwa interpretasi intertekstual tersebut diterima luas atau masih diperdebatkan.<\/p>\n<p>### 17. Studi Kasus Lanjutan: Surah Al-Kahfi (The Cave)<\/p>\n<p>Surah Al-Kahfi adalah contoh sempurna kekuatan modul *Intertexts*:<br \/>\n1.  **Penghuni Gua (Ashab al-Kahf):** Modul ini akan menghubungkan kisah ini dengan legenda **Tujuh Pemuda Tidur dari Efesus** (*Seven Sleepers of Ephesus*) yang terkenal dalam tradisi Kristen Bizantium dan Suriah.<br \/>\n    *   *Analisis:* Al-Qur&#8217;an tidak menyebutkan nama-nama mereka atau jumlah pasti (hanya menyebut &#8220;beberapa&#8221;), yang berbeda dengan versi Kristen yang spesifik. Ini menunjukkan al-Qur&#8217;an menggunakan legenda populer sebagai *parable* (perumpamaan) tentang kebangkitan, bukan sebagai sejarah faktual ketat.<br \/>\n2.  **Musa dan Khidr:** Paralel dengan legenda **Alexander the Great** dan pertemuan dengan sosok bijak abadi (dalam *Alexander Romance*).<br \/>\n3.  **Dzulqarnain:** Identifikasi kuat dengan Alexander Agung atau raja Yaman Himyarite, dengan paralel teks Suriah tentang pembangun tembok melawan Gog dan Magog.<\/p>\n<p>Halaman *Intertexts* memungkinkan pengguna melihat bagaimana al-Qur&#8217;an mengambil legenda populer abad kuno akhir dan &#8220;membersihkannya&#8221; dari unsur politeisme, lalu menggunakannya untuk menegaskan monoteisme dan kekuasaan Tuhan.<\/p>\n<p>### 18. Kesimpulan Akhir: Nilai Jangka Panjang<\/p>\n<p>Halaman *Intertexts* dari Corpus Coranicum adalah **jembatan digital** antara dunia studi Islam tradisional dan studi agama komparatif modern.<\/p>\n<p>*   **Bagi Dunia Akademik:** Ia menetapkan standar baru dalam transparansi data. Alih-alih mengklaim hubungan teks secara samar, ia menyediakan bukti visual dan leksikal yang dapat diverifikasi.<br \/>\n*   **Bagi Pemahaman Publik:** Ia menawarkan narasi yang lebih nuansa tentang asal-usul Islam, bukan sebagai fenomena yang terisolasi, tetapi sebagai bagian integral dari sejarah spiritual Timur Tengah.<br \/>\n*   **Bagi Masa Depan:** Seiring bertambahnya digitalisasi naskah kuno (manuskrip Laut Mati, naskah Suriah, dll.), database ini akan terus berkembang, menawarkan wawasan yang semakin tajam tentang detik-detik pembentukan teks al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p>Dengan menggunakan sumber ini secara kritis dan terbuka, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang jauh lebih kaya, kompleks, dan historis tentang al-Qur&#8217;an, melampaui batas-batas bacaan literalis semata.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berikut adalah kelanjutan analisis yang lebih mendalam, berfokus pada **implikasi teologis, kritik metodologis, perbandingan dengan pendekatan tradisional, serta panduan praktis** dalam memanfaatkan modul *Intertexts* dari Corpus Coranicum. &#8212; ### 13. Implikasi Teologis: Menavigasi Ketegangan antara &#8220;Wahyu&#8221; dan &#8220;Konteks&#8221; Salah satu aspek paling sensitif dari halaman *Intertexts* adalah dampaknya terhadap pemahaman teologis tentang al-Qur&#8217;an. Analisis ini menguraikan bagaimana proyek tersebut menangani ketegangan antara klaim wahyu ilahi dan bukti keterkaitan tekstual dengan sumber manusia\/sejarah. #### A. Konsep *Recontextualization* (Rekontekstualisasi) vs. *Plagiarism* (Plagiarisme) * **Pandangan Kritis Sekuler:** Sarjana orientalis tradisional sering menafsirkan paralel teks sebagai bukti bahwa Nabi Muhammad (atau penulis al-Qur&#8217;an) &#8220;meminjam&#8221; atau &#8220;menyalin&#8221; dari sumber Yahudi-Kristen. * **Pendekatan Corpus Coranicum:** Halaman ini menghindari kata &#8220;pinjaman&#8221;. Sebaliknya, ia menggunakan kerangka kerja **resepsi aktif**. Al-Qur&#8217;an dilihat sebagai agen yang secara sadar mengambil materi naratif yang dikenal audiensnya, lalu **memodifikasinya** untuk tujuan teologis baru. * *Contoh:* Jika al-Qur&#8217;an menceritakan kisah Musa dengan detail yang berbeda dari Keluaran (Exodus), itu bukan &#8220;kesalahan memori&#8221;, melainkan **komentar teologis** yang disengaja terhadap versi sebelumnya. #### B. Tantangan terhadap Doktrin *I&#8217;jaz* (Keunikan Sastra) * Doktrin *I&#8217;jaz* menyatakan bahwa al-Qur&#8217;an tidak dapat ditiru karena keunikannya. * Modul *Intertexts* menunjukkan bahwa al-Qur&#8217;an menggunakan gaya, metafora, dan struktur yang sangat mirip dengan puisi Arab pra-Islam dan prosa berima (*saj&#8217;*) serta homili Kristen Suriah. * **Implikasi:** Ini menggeser fokus dari &#8220;keunikan total&#8221; menjadi &#8220;keunikan dalam transformasi&#8221;. Keajaiban al-Qur&#8217;an, dalam pandangan ini, terletak pada kemampuannya mengolah materi lama menjadi pesan baru yang koheren, bukan pada penciptaan bahasa dari kekosongan. #### C. Yesus dan Maria dalam Perspektif Baru * Halaman ini sering menyoroti betapa eratnya kisah Yesus dan Maria dalam al-Qur&#8217;an dengan tradisi **Kristen Non-Kalsedonian** (seperti Yakobit atau Nestorian) yang dominan di Timur Tengah saat itu, bukan dengan Kristen Barat atau Ortodoks Yunani. * Ini menyarankan bahwa al-Qur&#8217;an berdialog spesifik dengan komunitas Kristen lokal di Hijaz\/Yaman, yang memiliki tradisi liturgis dan naratif tersendiri (misalnya, penekanan pada kemanusiaan Yesus atau peran Maria yang sangat dimuliakan). ### 14. Kritik Metodologis dan Keterbatasan Akademis Meskipun canggih, pendekatan *Intertexts* dalam Corpus Coranicum tidak luput dari kritik akademis. Penting untuk memahami batasan-batasan ini agar analisis tetap seimbang. #### A. Masalah *Parallelomania* (Obsesi Paralel) * **Kritik:** Beberapa sarjana berpendapat bahwa proyek ini terkadang terlalu agresif mencari kemiripan. Tidak setiap kemiripan tema (misalnya, adanya air bah atau taman surga) membuktikan hubungan tekstual langsung. Bisa jadi itu adalah **motif universal** atau arketipe budaya Timur Dekat kuno. * **Risiko:** Menghubungkan dua teks hanya karena memiliki elemen serupa dapat mengarah pada kesimpulan palsu tentang ketergantungan historis. #### B. Bias Sumber Tertulis (Textual Bias) * **Kritik:** Proyek ini sangat bergantung pada teks tertulis yang telah survives (bertahan) hingga kini (Alkitab, Talmud, Homili Suriah). * **Kenyataan Historis:** Pada abad ke-7, banyak tradisi beredar secara **lisan** (oral tradition). Apa yang tertulis dalam *Midrash* abad ke-9 mungkin mencerminkan tradisi lisan abad ke-6. Namun, sulit membuktikan bahwa al-Qur&#8217;an mengakses versi lisan tersebut daripada versi tertulis. * **Keterbatasan:** Halaman ini mungkin melewatkan nuansa tradisi lisan Arab murni yang tidak memiliki padanan tertulis di luar Jazirah Arab. #### C. Kompleksitas Bahasa dan Terjemahan * Meskipun ada terjemahan, makna teologis sering hilang dalam translasi. * *Contoh:* Kata Arab *Ruh* (Roh) memiliki resonansi yang berbeda dengan *Pneuma* (Yunani) atau *Ruach* (Ibrani). Membandingkannya secara langsung tanpa analisis semantik mendalam bisa menyesatkan. Corpus Coranicum berusaha mitigasi ini dengan catatan filologis, tetapi pengguna awam mungkin melewatkannya. ### 15. Perbandingan dengan Tafsir Tradisional Islam Bagaimana pendekatan *Intertexts* ini berbeda dengan metode tafsir klasik (seperti Tafsir Ibnu Katsir atau Al-Tabari)? | Aspek | Tafsir Tradisional (Klasik) | Corpus Coranicum (Intertexts) | | :&#8212; | :&#8212; | :&#8212; | | **Sumber Otoritas** | Hadis, Riwayat Sahabat, Tabi&#8217;in. | Teks-teks kontemporer al-Qur&#8217;an (Alkitab, Apokrifa, Puisi Arab). | | **Arah Pandang** | *Internal*: Menjelaskan al-Qur&#8217;an dengan al-Qur&#8217;an dan Sunnah. | *Eksternal\/Komparatif*: Menjelaskan al-Qur&#8217;an dengan konteks sejarah luas. | | **Tujuan** | Hukum (Fiqh), Akidah, Spiritualitas. | Sejarah, Filologi, Sastra, Kontekstualisasi. | | **Sikap terhadap Teks Lain** | Sering menganggap teks Yahudi-Kristen telah *tahrif* (dirusak\/dipalsukan). | Memandang teks Yahudi-Kristen sebagai saksi sejarah yang valid untuk rekonstruksi konteks. | | **Metode** | Naratif-Transmisi (*Isnad*). | Kritis-Historis &#038; Komparatif. | **Poin Kunci:** Corpus Coranicum tidak bertujuan menggantikan tafsir tradisional, tetapi melengkapi dengan lapisan analisis historis yang sering diabaikan oleh exegete klasik karena keterbatasan akses mereka terhadap naskah-naskah kuno non-Arab. ### 16. Panduan Praktis: Cara Menggunakan Halaman Ini untuk Penelitian Jika Anda ingin memanfaatkan halaman https:\/\/corpuscoranicum.de\/en\/intertexts secara efektif, ikuti langkah-langkah strategis berikut: #### Langkah 1: Tentukan Fokus Penelitian Jangan menjelajah secara acak. Pilih salah satu: * **Tokoh:** Misalnya, &#8220;How is Abraham portrayed?&#8221; * **Tema:** Misalnya, &#8220;Eschatology (Kiamat)&#8221; atau &#8220;Law (Hukum Waris)&#8221;. * **Surah Spesifik:** Misalnya, Surah Al-Kahfi (yang penuh dengan paralel legenda). #### Langkah 2: Gunakan Filter &#8220;Source Language&#8221; * Jika Anda tertarik pada pengaruh Yahudi, filter untuk sumber **Hebrew** atau **Aramaic (Targum\/Midrash)**. * Jika tertarik pada pengaruh Kristen, filter untuk **Greek (New Testament)** atau **Syriac (Homilies\/Hymns)**. #### Langkah 3: Perhatikan &#8220;Apparatus&#8221; (Catatan Kaki) * Jangan hanya membaca teks berdampingan. Klik ikon informasi atau catatan kaki. Di sinilah para ahli Corpus Coranicum menjelaskan *mengapa* mereka menghubungkan dua teks tersebut. * Cari kata kunci seperti *&#8221;loanword&#8221;* (kata serapan), *&#8221;calque&#8221;* (terjemahan harfiah idioms), atau *&#8221;narrative parallel&#8221;*. #### Langkah 4: Verifikasi Silang (Cross-Reference) * Bandingkan temuan di Corpus Coranicum dengan literatur sekunder lain seperti karya **Angelika Neuwirth** (pendiri proyek), **Gabriel Said Reynolds**, atau **Sidney Griffith**. Ini membantu memastikan bahwa interpretasi intertekstual tersebut diterima luas atau masih diperdebatkan. ### 17. Studi Kasus Lanjutan: Surah Al-Kahfi (The Cave) Surah Al-Kahfi adalah contoh sempurna kekuatan modul *Intertexts*: 1. **Penghuni Gua (Ashab al-Kahf):** Modul ini akan menghubungkan kisah ini dengan legenda **Tujuh Pemuda Tidur dari Efesus** (*Seven Sleepers of Ephesus*) yang terkenal dalam tradisi Kristen Bizantium dan Suriah. * *Analisis:* Al-Qur&#8217;an tidak menyebutkan nama-nama mereka atau jumlah pasti (hanya menyebut &#8220;beberapa&#8221;), yang berbeda dengan versi Kristen yang spesifik. Ini menunjukkan al-Qur&#8217;an menggunakan legenda populer sebagai *parable* (perumpamaan) tentang kebangkitan, bukan sebagai sejarah faktual ketat. 2. **Musa dan Khidr:** Paralel dengan legenda **Alexander the Great** dan pertemuan dengan sosok bijak abadi (dalam *Alexander Romance*). 3. **Dzulqarnain:** Identifikasi kuat dengan Alexander Agung atau raja<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"_import_markdown_pro_load_document_selector":0,"_import_markdown_pro_submit_text_textarea":"","_ayudawp_aiss_exclude":false,"fifu_image_url":"","fifu_image_alt":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-948","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=948"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/948\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":954,"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/948\/revisions\/954"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/caca.casz.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}